1. Kalau pagi ini engkau bisa BAB di WC, bersyukurlah. Di pedalaman, masih ada da’i kita yang harus menggali tanah untuk sekedar buang air.
2. Di sejumlah titik di tengah hutan, terdapat da’i yang berdakwah sendirian, mengajari para muallaf, meninggalkan hiruk-pikuk kota.
3. Ada juga yg tinggal di masjid yg sunyi tanpa fasilitas MCK. Jika sewaktu-waktu perlu MCK, mereka harus berjalan kaki berkilo-kilometer.
4. Seseorang mengantarkan uang kpd satu da’i pedalaman itu, tapi ia menolak. Dakwah di kota lebih membutuhkan uang. Beri kami do’a yg tulus.
5. Jika mau bantu, berikan saja sarana komunikasi. Untuk menelpon, mereka harus berjalan jauh ke atas gunung agar memperoleh sinyal GSM.
6. Atau berikan alat yang dapat menghasilkan listrik yang mencukupi untuk menghidupkan komputer, charge HP dan syukur bisa untuk yang lain.
7. Apalagi yang diperlukan? Seorang sarjana S-1 ilmu agama yang bersedia menjadi istri dan siap berjuang di tengah hutan, sebab untuk >>
8. >> mengajarkan agama Islam di sekolah yang ada di sana bagi anak kaum muslimin, harus guru agama yang memenuhi syarat menjadi PNS.
9. Sampai kapan berdakwah di sana? Sampai beranak-cucu, atau sampai habis umur ini, atau sampai ada tempat yang lebih memerlukan dakwah.
10. Mereka gigih berdakwah bersebab rasa takutnya kalau sampai ada orang-orang yang di sana dalam keadaan belum pernah mendengar ttg Islam.
11. Mereka brdakwah –bukan skedar jadi pembicara– di pedalaman bukan krn tak mampu brwirausaha di kota, tapi krn ingin jadi asbab hidayah.
12. Jika pun brmaksud bawakan bagi mereka logistik, bawakan saja ikan kaleng, mie instant sekedar sbg selingan makan rusa & binatang buruan.
13. Jangan bayangkan santapan yang enak. Berbagai binatang buruan itu mereka makan ala kadarnya. Bersyukur jika bertabur garam & bumbu.
14. Maka kehadiran seorang istri amatlah berharga. Selain sebagai teman berjuang, juga untuk menjadikan perjuangan dakwah lebih berwarna.
15. Kehadiran istri dapat menjadikan binatang buruan tak hanya direbus, dipanggang di atas batu atau dibakar langsung, tapi dibumbui.
16. Bahkan istri yang tak dapat memasak pun dapat menegakkan punggung mereka untuk tetap gigih berdakwah asalkan siap berjuang di kesunyian.
17. Mereka bukanlah orang-orang lemah seperti saya. Mereka meninggalkan kemudahan kota secara sengaja demi meraih surga-Nya.
18. Salah seorang dari mereka, yang masing-masing tinggal sangat berjauhan di wilayah dakwah berbeda, amat tegap badannya, gagah, tampan, >>
19. >> berkulit amat putih dan cerdas. Tapi bukan itu yang membuat saya merasa malu. Kesungguhannya untuk mengantar hidayah yg bikin haru.
20. Salah seorang da’i brkata, “Kalau sampai ada orang yg mati dalam keadaan belum pernah mendengar ttg Islam, sementara kita ada sini, >>
21. >> boleh jadi kita yang ikut memiliki saham dosa atas kekafiran mereka. Maka, apa jawab kita nanti kalau bukan berusaha keras sekarang?”
22. “Kami tak perlu kehadiran Ustadz terkenal yg tidak bisa melayani dirinya sendiri. Yg kami perlukan, orang yg siap mengotori tangannya >>
23. >> untuk mengusap mereka dan mengikhlaskan badannya untuk berpelukan dengan dekil tubuh mereka yang gembira menyambut kita.”
24. Jika mau sungguh-sungguh berdakwah, jangan khawatir kekurangan makan di sini. Pertolongan Allah tetap berlaku di belahan bumi manapun.
25. Orang-orang di pedalaman tak memerlukan curriculum vitae yang panjang dan serangkaian prestasi yang bikin tercengang.
26. Mereka hanya memerlukan orang yg tulus menyapa; yg menyediakan airmatanya untuk mendo’akan mereka. Bukan menangisi terbatasnya fasilitas
27. Sempat saya diajak ke sebuah tempat dan ditunjukkan, “Dubes Vatikan sudah dua kali ke sini.” ثم لتسألن يومئذ عن النعيم 6
28. “Kemudian sungguh kelak kamu akan ditanyai pada hari itu (tentang nikmat yang Allah berikan kepadamu).” QS. At-Takaatsur: 8
29. Merupakan kehormatan jika seorang ustadz besar brkenan datang menyapa mereka. Jangan khawatir, mereka akan mnyambut dg penuh kehangatan.
30. Mereka dg senang hati memberikan apa yg mereka punya, jika kita tidak malu menerimanya. Bahkan gaharu pun mereka tak berat melepaskan.
31. Semoga di tahun ini, tak lama, sy dapat mendatangi sebagian pos dakwah mereka. Semoga Allah mampukan sy membawakan sesuatu yg berharga.
32. Bersyukur saya sempat pula bertemu seorang da’i yang tinggal berdua dengan isterinya di tengah hutan. Saya tertegun.
33. Saya termangu melihat wajahnya yang menyiratkan sbg pribadi bahagia & tenang. Bukan sekedar kebetulan sedang bahagia.
34. Betapa ringan ia mnghadapi dunia, meski HPnya sudah tak bertutup di bagian belakang. Pengen bawakan ia HP tahan banting, awet baterai.
35. Masih amat banyak hal yang patut direnungi. Tapi izinkan saya menata hati. Betapa kecilnya diri ini di hadapan mereka.
36. Nasehati saya, nasehati saya & do’akan. Teringat sebuah hadis, tapi saya belum menemukan penjelasan ttg status hadis ini (bisa bantu?).
37. “Tdk akan trjadi kiamat sbelum muncul golongan yg mncari makan melalui lidah-lidah mrk, sprti sapi yg makan dg lidah-lidahnya.” HR Ahmad
Pedalaman (rangkaian twit dari ustad Fauzhil Adhim @kupinang)
Posted in Uncategorized | Tags: cerita
Pre order kaos #IndonesiaTanpaJIL
Pre Order official t-shirt #IndonesiaTanpaJIL
bahan combed 20s
ukuran S, M, L, XL, XXL
harga S, M, L : 55.000
XL : 60.000
XXL : 65.000
Belum termasuk ongkos kirim
sistem pre order, akan mulai produksi setelah pemesan mencapai 6 orang.
PESAN>KONFIRMASI> BAYAR DP 50% (lunas lebih baik) > PRODUKSI > PELUNASAN > KIRIM
cod kota jogja
pengiriman via JNE atau Pos Indonesia
pemesanan
hp : 08995547479
gtalk: hasan.pramudhito
terima kasih
daftar pemesan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Posted in coretan | Tags: indonesia tanpa jil, tanpa jil, tolak jil
13ribu
“Ini pak”, (menyodorkan seribu rupiah untuk membayar parkir)
“Eh iya mas”. (sambil mencari gopek unutk kembalian)
“Emm tidak usah kembalian aja pak”….
“eh, matur nuwun sanget mas” (dengan rona wajah yang sangat gembira) “Alhamdulillah mas, sudah dapet 13ribu”, ucap beliau dangan menampakkan muka sangat bersyukur.
Ya, siang itu 13 februari 2012, saya mendapatkan teguran yang luar biasa melalui bapak tukang parkir didepan toko elektronik itu. Setelah 2 hari sebelumnya saya menyaksikkan kegaduhan teman-teman, atau bahkan saya sendiri ikut gaduh memikirkan pendapatan setalah pengumuman instansi. Gaduh karena kecewa ditempatkan di instansi yang tunjangannya lebih kecil dari instansi lain, gaduh karena honor yang diterima ketika magang di anggap terlampaui kecil, dan kegaduhan- kegaduhan lainnya. Disaat saya menanyayangkan honor yang 800an ribu sebulan, seakan saya di tampar dengan keras siang itu. 13rb dalam satu hari, dan bapak itu seakan mengatakan bahwa hari ini ramai, lebih dari biasanya, lalu kalau hari biasa berapa yang diperoleh bapak tukang parkir itu. Kejadian ini memaksa saya mengendari sepeda motor diiringi rembesan air mata.
terimaksih bapak tukang parkir.pembaca yang budiman semoga kita termasuk orang- orang yang senantiasa bersyukur
Posted in coretan | Tags: cerita, parkir, rembang, seribu rupiah, syukur, toko elektronik, tukang parkir
ibu (mungkin bersambung)
Le, piye di pak diarto nopo mawon?
Nggih, sinau 5 mapel, kalian senam,
Mboten dilatih pianika? Ketokke butuh, sesung ngampil sekolahan nggih..
Nggih..
Secuil penggalan percakapan saya dengan ibu, ketika saya awal kelas 6 sd, tentu saja tidak persis demikian. Ketika itu saya mengikuti lomba siswa berprestasi ke tingkat kabupaten. Hasil akhir dari lomba itu saya peringkat dua, dengan persiapan cuma 6hari.
Anak kita ternyata luar biasa
Kalimat yang diucapakan oleh ibu saya, kepada ayah saat menceritakan hasil lomba siswa berprestasi setibanya ayah dari Bandung usai menghadiri wisuda adik sepupunya di IPDN.
Nggih, mangke nak juara, itok di jak tindak gramedia.
Janji dari ibu saat saya akan mengikuti lomba mata pelajaran PPkn/IPS di tingkat provinsi untuk mewakili kabupaten, masih di kelas 6 SD. Anak kampung di janjikan di ajak ke gramedia, betapa gembiranya saya waktu itu. Walaupun akhirnya batal, karena saya hanya peringkat 7 hehe. Tapi kata-kat ibu yang monumental saat itu adalah “ tiga tahun lagi ibu akan hadir disini lagi” saya sangat yakin doa itu untuk adik saya yang saat itu kelas 3 SD. Dan benar, 3tahun kemudian gantian adik saya yang lomba ditempat yang sama.
Sekarang melompat sewaktu sayakelas 3 SMP, “ok, gapapa sekarang 50 besar, masih ada semester akhir untuk bisa masuk 10 besar”. Ketika itu mengomentari hasil ujian semester yang di ranking se kabupaten, tepatnya saya peringkat 48. Lagi- lagi, pengumuman Ujian Akhir Nasional kala itu saya rangking 4, meskipun tingkat sekolah hehe.
Dan lagi, sesaat sebelum ibu berangkat haji, saya ditanya, “piye PMDK daftar pundi?” saya dengan mantap menjawab UNS. Alhamdulliah, saat pengumuman sehari sebelum saya berulang tahun ke 18, nama saya ada di dalam daftar calon mahasiswa yang diterima di UNS.
Seperti yang teman saya tuliskan dalam status facebooknya sekitar sebulan yang lalu, sehubungan dengan pengumuman penempatan instansi, “Doa ibu memang tidak berhijab, terimakasih mak”.
Ya terimaksih ibu… (mungkin bersambung)
Posted in Uncategorized
Karut-Marut
Hari ini 20 desember, dan semua sekolah di kabupeten tempat saya tinggal belum mendapatkan dana BOS tri wulan terakhir yang seharusnya sudah diterima pada awal bulan oktober lalu. Dengan sisa sepuluh hari ditahun anggaran ini dana BOS belum juga bisa diterima oleh sekolah- sekolah. Padahal untuk saat ini dana BOS merupakan tulang punggung utama sekolah untuk melaksanakan segala operasionalnya. Tentu saja hal ini membuat sekolah- sekolah kelabakan untuk dapat terus melanjutkan operasionalnya.
Mungkin sudah menjadi rahasia umum, semenjak penyaluran dana BOS disalurkan melalui pemerintah daerah (dulu sempat dana langsung ditransfer ke rekening sekolah) sering, bahkan selalu mengalami keterlambatan. Dana yang di salurkan setiap tiga bulan sekali yang seharusnya diterima oleh sekolah- sekolah disetiap awal triwulan, nyatanya baru diterima di akhir bulan pada bulan ketiga. Sekolah sampai harus berhutang kesana kemari untuk menutup biaya operasionalnya. Tak jarang para guru dan komponen lain iuran untuk menutup biaya operasionalnya. Dan yang cukup miris, kadang pegawai honorer yang ada disekolah harus tertunda menerima honornya yang tidak seberapa.
Dan kejadian menarik hari ini, pihak sekolah dimana ayah mengajar mencoba untuk mencairkan dana BOS. Ternyata hari ini pun dana BOS belum bisa dicairkan, menurut pegawai di lingkungan dinas pendidikan kabupaten, dana BOS baru bisa dicairkan setalah hari kamis (22 desember). Lalu yang menarik, pegawai tersebut lantas mengingatkan agar LPJ dana BOS diserahkan pada hari jumat (23 desember). How come? Dana yang belum bisa dicairkan sudah diminta LPJ? Pun kalau hari kamis cair, jumat sudah mengumpulkan LPJ? Akankah terjadi LPJ bandung bondowoso yang sebenarnya. Sampai dengan saat ini saya masih tak habis pikir dengan sistem yang berjalan dalam penyaluran dana BOS.
Yang menarik lagi, dana yang tidak terpakai sampai hari jumat (23 desember) harus dikembalikan, dana direncanakan baru diterima tanggal 22 desember harus bisa dimanfaatkan hanya dalam waktu semalam, mungkin juga ini yang membuat ada beberapa dana yang mampir ke rekening pribadi. Mungkin juga ini yang mengakibatkan sekolah tidak maksimal dalam melaksanakan program-programnya. Ya bagaimana mau maksimal, saat dana dibutuhkan untuk menjalankan program dana BOS belum hadir, ya terpaksa menggunakan dana seadaanya, dan dana yang ditunggu-tunggu baru bisa hadir H-1 sebelum deadline LPJ.
Karena orang tua saya keduanya adalah guru, jadi banyak cerita tentang dana BOS yang saya dapatkan. Mungkin lain kali akan saya sambung cerita dengan tema yang sama. Mungkin juga teman-teman yang kebetulan membaca ini bisa menambahkan kisah tentang dana BOS, mungkin akan sangat membantu untuk perbaikan penyaluran dana BOS ini kedepannya….
Posted in Uncategorized | Tags: cerita, coretan, rembang
Pare-dise 3 (fasilitas di kampung bahasa)
Masih tentang kampung bahasa, kali ini hendak menceritakan tentang fasilitas penunjang kehidupan sehari- hari (maaf bahasanya kurang enak dibaca). Apaka fasilitas penunjang yang dimaksud? Fasilitas disini seputar tempat tinggal, alat transportasi, ATM, warung makan, tempat laundry, mini market dan koneksi Internet. Disadari atau tidak keberadaan fasilita itu akan mempengaruhi kehidupan kita selama berada di kampung bahasa ini.
Kita mulai dari tempat tinggal, sebenarnya bukan hal yang sulit untuk mencari tempat tinggal sementara. Namun akan menjadi sangat sulit ketika kita mempunyai kriteria ideal misalnya, nyari kamar yang ada AC-nya, ada TV nya, dsb. Kebanyakan bahkan hampir semua tuan rumah pemilik kos- kosan menghendaki satu kamar di huni lebih dari satu orang. Ada juga yang disebut dengan camp, camp ini kalau saya pribadi menyebutnya semacam asrama. Camp mempunyai tata-tertib yang rigid begitu juga dengan jadwal kegiatannya. Camp juga mewajibkan penghuninya menggunakan bahasa inggris dalam kesehariannya, tapi saya menemukan juga camp bahasa arab, sehingga penghuninnya wajib menggunakan bahasa arab. Biaya yang dibutuhkan unutk mendapatkan tempat tinggal sementara relatif terjangkau, untuk kosan berkisar 100rb hingga 200rb, sedangkan untuk camp berkisar 200rb sampai dengan 550rb.
Alat transportasi utama yang digunakan oleh teman- teman disini adalah sepeda. Di kampung bahasa ini terdapat banyak tempat persewaan sepeda. Mulai dari sepeda kumbang, hingga sepeda model baru. Untuk memanfaatkan sepeda kita harus merogoh kocek lagi, biaya yang dibutuhkan berkisar dari 50rb sampai 70rb. Sepeda ini menjadi sangat penting bagi yang mengambil beberapa program di beberapa tempat berbeda untuk mempermudah mobilisasi. Karena hampir semua orang yang ada di kampung bahasa ini menggunakan sepeda, maka jalan kaki dipandang sebagai hal yang aneh. Sering saya mendapatkan pertanyaan “hi where is your bicycle?” ada juga “whats up boy, knpa jalan?”
Nah, kali ini adalah salah satu fasilitas penting untuk menyambung nyawa, ATM. Bagi saya yang tiga tahun belakangan cukup jalan kaki untuk mencapai ATM terdekat mengatakan harus melakukan perjuangan khusus untuk dapat mencapai ATM dari Kampung bahasa ini. Tidak ditemukan satupun ATM diwilayah desa Tulungrejo ini, untuk menggunakan fasilitas ATM kita wajib keluar dari desa ini menuju kota pare, jaraknya sekitar 2Km. Nah, kalau sudah sampai di Pare, hampir semua ATM dari bank besar tersedia. Untuk mencapai ATM biasanya teman- teman disini bersepeda ke kota Pare.
Warung makan di kampung bahasa ini cukup bertebaran, dan hampir semuanya menyediakan menu pecel (yeaaah). Untuk harga jelas lebih ringan dari pada di sekitar jurangmangu, tempat saya tinggal tiga tahun belakangan. Dengan lima ribu rupiah kita sudah bisa mendapatkan seporsi jumbo nasi pecel, gorengan dua, dan teh anget manis. Dengan nominal yang sama, kita juga bisa mendapatkan pecel lele dengan lele dua ekor. kalau yang hobi bakso agak mahal sedikit, untuk bakso dan teh manis kita merogoh kocek hingga menemukan nominal delapan ribu. Satu hal lagi yang saya sukai di kampung bahasa ini adalah es sari tebu, cukup seribu rupiah untuk siang hari yang panas di kampung bahasa ini.
Bagaimana dengan yang tidak terbiasa mencuci pakaian? Jangan khawatir, jasa laundry juga cukup banyak di kampung bahasa ini. Harga yang ditawarkan cukup murah, mulai dari dua ribu hingga tiga ribu rupiah per kilo gramnya. dan waktu yang dibutuhkan tidak lama, hari ini laundry masuk, paling lambat besok malam sudah bisa di ambil.
Salah satu minus kampung bahasa ini adalah lemahnya jaringan internet, hal ini berlaku untuk modem wireless. Apapun kartu prabayarnya, apapun modemnya, semuanya bermasalah di kampung bahasa ini. Untuk sekedar update status pun seringkali kesulitan, apalagi untuk download manga naruto. Namun lemah koneksi ini tidak terjadi jika kita menggunakan jasa warnet, koneksi melalui warnet relatif lebih baik. Selain itu jumlah warnet disini juga cukup banyak dan biaya juga terjangkau. Selain warnet, di kampung bahasa ini juga terdapat beberapa warung makan yang menyediakan hotspot area, nah ini bisa kita manfaatkan, dan koneksinay biasanya cukup baik
Bersambung..
Posted in Uncategorized | Tags: kampung bahasa, kampung inggris, kampung pare, pare
Pare-dise 2 (memilih program)
Bagaimana memilih program kursus bahasa Inggris di kampung bahasa Pare? Ada banyak lembaga kursus di kampung bahasa ini, tentu saja banyak program yang ditawarkan dan menjadi unggulan masing- masing lembaga kursus ini. Bagi yang pertama kali datang ke Pare, dan sama sekali belum punya gambaran untuk mau mengikuti program yang mana dan lembaga yang mana, bukan merupakan hal yang mudah untuk menentukan pilihan.
Yang pertama yang perlu diperhatikan berapa lama waktu yang kita punya untuk tinggal di Kampung Bahasa ini. Hal ini penting diperhatikan, mengingat tidak semua orang memiliki kelonggaran waktu yang sama. Program yang disediakan oleh berbagai lembaga di kampung bahasa ini rata- rata berdurasi dua minggu, dan satu bulan, namun ada program tertentu yang berdurasi dua bulan, ada juga yang sampai enam bulan.
Yang kedua, program apa yang kita butuhkan? Untuk program TOEFL, IELTS, dsb rata- rata membutuhkan waktu satu bulan, program ini rata rata mulai tanggal 10 setiap bulannya. Sedangkan untuk kelas speaking dan anak turunnya seperti pronounciation, rata- rata berdurasi dua minggu, program dua mingguan ini jamak start dari tanggal 10 dan 25 setiap bulannya. Untuk teman- teman yang mau belajar dikampung ini hendaknya disesuaikan dengan jadwal program yang hendak dipilih, kan ga enak kalau kita dateng tanggal 15 program baru mulai tanggal 25. nah untuk teman- teman yang mempaunyai waktu lebih dari enam bulan, sepertinya cocok ngambil BEC, lembaga kursus pertama dikampung ini, start program empat kali dalam setahun.
Lembaga mana kita mengambil program? Nah maaf kalau disini saya terlampau banyak sok tahu, karena saya akan mengandalkan suara- suara orang yang saya dengar selama dua mingguan di kampung ini. Mohon dimaafkan ya… nah katanya kalau kita pengen ngambil program yang berkaitan dengan Grammar suara- suara disini merekomendasikan kita untuk ke lembaga Elfast, Kresna, Smart dan Oxford. Untuk program persiapan TOEFL, banyak yang yang menyebut kembali empat lembaga tadi yakni Elfast, Kresna, Smart, dan Oxford. Untuk program speaking, banyak yang merekomendasikan Daffodils, Marvelous dan Mr BOB, namun kerena penulis adalah korban dari program speaking Elfast, maka penulis juga merekomendasikan Elfast. Hehe
Satu lagi yang perlu diperhatikan, jangan terlalu banyak ngambil program, usahakan sehari empat kelas saja, jangan lebih (nasehat tutor). Nah yang tidak boleh di lenakan adalah, hati hati mengambil program yang waktunya berdekatan dari dua lembaga yang berbeda dan lokasinya berjauhan, waktu kita akan habis untuk moving dari satu tempat ke tempat lain. Kalau mau ngambil yang lokasinya berjauhan, cari waktu yang tidak berdekatan.
Bersambung….
Posted in Uncategorized | Tags: kampung bahasa, kampung inggris, kampung pare, pare
Pare-dise
Sebelumnya coretan ini hendak berjudul “pesona pare, kampung bahasa”, tapi karena kata pesona sudah menjadi trade mark orang lain maka saya tetap dangan identitas saya, judul satu kata. Oke lanjut ceritanya, mungkin sebagian besar dari kita sudah mengatahui bahwa ada sebuah kampung di pinggiran kediri ini dikenal sebagai kampung Inggris, sudah sering dimuat oleh media massa. Saya sendiri lebih suka menyebutnya kampung bahasa daripada kampung Inggris. Nah kali ini saya akan bercerita tetang kehidupan di kampung bahasa selama 2mingguan, semoga menikmati.
Desa Tulungrejo, kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Sekitar satu jam perjalan dari terminal Jombang, 4 jam dari Tuban, dan 6 jam dari rumah saya. Jadi berapa waktu yang dibtutuhkan dari rumah saya sampai ke Tuban? Desa ini terletak di pinggiran kediri, sampai- sampai jaringan Internetpun susah didapat. Untuk mencapai kampung ini saya menempuh perjalanan yang cukup berat, bagamana tidak saya harus menyeberangi dua sungai besar di pulau jawa. Saya harus menyeberangi Bengawan Solo, dan Sungai Brantas. Perjalan 6jam jadi terasa lebih melelahkan daripada perjalan 12jam ke jakarta.
Desa tulungrejo ini memang unik, banyak bertebaran lembaga kursus bahasa itu kenapa kampung ini disebut kempung bahasa. Mau belajar bahasa utama di pergaulan global di kampung ini ada lembaga yang menyediakan (asal jangan bahasa hewan). Dan kampung ini juga unik, hipotesa saya, hampir semua penduduknya bisa berbahasa Inggris, tukang gorengan dekat kos saya, penjaga distro, penjual nasi, mempunyai kemampua bahasa inggris yang bagus. Dan memang, lembaga kursus bahasa inggris di kampung ini sangat mendominasi, jumlahnya nyaris setara dengan warung makan.
Untuk pilihan program yang bisa di ikuti di kampung ini sangat bervariatif, untuk bahasa Inggris terdapat pilihan TOEFL, IELTS, Grammar, speaking, pronounciation, public speaking, dll. Durasi satu program mulai dari dua minggu hingga enam bulan. Biaya per program sangat terjangkau, untuk program yang saya ikuti memerlukan biaya 85ribu untuk dua minggu, atau 20kali pertemuan, murah bukan? Apalagi kalau harga itu dibandingkan dengan biaya kursus serupa di kota besar. Untuk program TOEFL biaya yang dibutuhkan berkisar antara 160rb hingga 220rb perbulan, dengan dua hari sekali dilakukan pengambilan skor. Murah bukan??
Bagaimana dengan biaya hidup? Biaya hidup di kampung bahasa inu juga terjangkau. Mulai dari tempat tinggal, beksar antara 100rb sampai dengan 250 rb sebulan. Mulai dari tempat kos hingga camp. Sedangkan biaya makan, tentu lebih terjangkau dari seputaran jurangmangu, 15ribu seahri udah cukup untuk makan enak (versi anak kos). Oh ya, untuk memudahkan mobilitas, kita bisa menyewa sepeda onthel, biaya yang dibutuhkan sekitar 50ribu sebulan.
Kursus di kampung bahasa ini rata- rata masuk dalam lima hari kerja. Nah sabtu dan ahad rata- rata dimanfaatkan untuk rekreasi. Kemana? Untuk tempat tujuan rekreasi ada bermacam pilihan, mulai yang paling dekat, Surowono, lalu Bromo, hingga pulau Sempu. Surowono ini bisa ditempuh dengan bersepeda sekitar 20menit. Sepertinya buttuh tulisan tersendiri untuk bisa menjelaskan masing- masing tempat ini.
Ini dulu ya cerita awal tentang Pare-dise, Insya Alloh akan saya sambung lagi, tentang bagaimana suasana kursus, memilih tempat makan, memilih program, dsb. Mungkin akan banyak bumbu sok tau karena saya Cuma dua minggu disana. Terimakasih untuk teman- teman di Grammar Speaking ELFAST, dan Confident class ELFAST.
Posted in Uncategorized | Tags: kampung bahasa, kampung inggris, kampung pare, pare
Padmanabha
Padmanabha, atau lebih dikenal dengan Kresna. Adalah putra dari pemangku tahta kerajaan Mandura, prabu Basudewa. Kresna terlahir sebagai anak kedua, kakak Kresna bernama Baladewa, yang merupakan pewaris tahta kerajaan Mandura, dan adik Kresna adalah Wara Sembadra yang kemudian menjadi permaisuri dari Arjuna. Kresna sendiri kemudian menjadi pemangku tahta di kerajaan Dwarawati. Perawakan Dalam pewayangan jawa, Kresna digambarkan dengan pria yang berkulit hitam, menggunakan nyamping (bener ga istilahnya?) berwarna kuning dan mengenakan mahkota yang tersusun dari bulu merak. Kresna ini dalam mitologi hindhu di anggap sebagai titisan dewa Wisnu. Senjata dan Jurus (biar keren, kalau ajian kayaknya ga keren) Kresna memiliki berbagai macam senjata dan jurus ampuh, yang kemudian hari berguna ketika Bharatayudha berlangsung. Senjata yang pertama yakni Kembang Wijayakusuma, senjata ini bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati dengan ijin Sang Hyang Widhi, kembang Wijayakusuma ini pula yang menghidupkan kembail Arjuna setelah secara tidak sengaja terbunuh oleh Baladewa.Namun Kembang wijayakusuma ini disita oleh para dewa sebelum perang Bharatayudha untuk ditukar dengan suratan takdir Bharatayudha. Senjata yang kedua adalah senjata Cakra, senjata ini yang kelak membantu Arjuna memenuhi sumpahnya untuk membunuh Jayadrata dalam Bharatayudha. Selain kedua senjata diatas, Kresna juga memiliki Kresna juga mempunyai sangkakala yang bernama Pancajahya. Selain memiliki beragam senjata yang ampuh, Kresna juga memiliki bergbagai jurus yakni ajian pameling dan ajian Kawrastawan. Namun jurus Kresna yang paling ampuh adalah Triwikrama, yakni berubah menjadi raksasa tiada tanding. Peran di Bharatayudha Bisa ikatakan Kresna adalah aktor intelektual dalam perang Bharatayudha. Bagaimana tidak, kresna seakan mengatur jalannya perang ini. Membuat Antareja (ada yang bilang Antasena juga) terbunuh sebelum bharatayudha, karena Antareja ini jika menjilat jejak musuhnya, akan membuat empunya jejak mati terbakar. Kalau ini terjadi bisa jadi Bharatayudha selesai dalam sekejap karena jilatan Antareja. Dan masih banyak peran penting lainnya.. Dengan berbagai peran sentral ini mengapa saya menyebut Kresna sebagai aktor intelektual Bharatayudha. Sahdan sebelum bharatayudha, Kresna menawarkan pilihan kepada Pandawa dan Kurawa, apakah memilih tentara Dwarawati atau memilih Kresna. Pandawa memilih Kresna, sedang kurawa lebih memilih pasukan Dwarawati. Sayangnya, Kresna gagal mewariskan keturunan yang tangguh, putranya saling bunuh karena masalh kecil.
Menyingkirkan Baladewa dengan menyarankan agar Baladewa bertapa. Hal ini dilakukan karean Baladewa cenderung berpihak pada kurawa, dan berpotensi mebahayakan Pandawa.
Mengatur stratergi pandawa, tentyang siapa siapa saja yang diturunkan menjadi panglima perang.
Pencetus isu Aswatama mati saat Durna menjadi panglima perang Kurawa
Menurunkan Srikandi untuk mengahdapi Bisma
Memerintahkan Pinten dan Tangsen untuk menemui Prabu Salya, saat Salya menjadi panglima perang Kurawa
Menjadi pengendali kereta Arjuna saat perang kembar antara Arjuna dengan Karna
Menutupi matahari dengan senjata cakra untuk memancing Jayadrata keluar dari persembunyiannya.
Posted in coretan
tujuh belas januari
Perjanjian Renville adalah perjanjian antara Indonesia dan Belanda yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral, USS Renville, yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perundingan dimulai pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Committee of Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Amir Syarifuddin Harahap. Delegasi Kerajaan Belanda dipimpin oleh Kolonel KNIL R. Abdul Kadir Wijoyoatmojo.
Pemerintah RI dan Belanda sebelumnya pada 17 Agustus 1947 sepakat untuk melakukan gencatan senjata hingga ditandatanganinya Persetujuan Renville, tapi pertempuran terus terjadi antara tentara Belanda dengan berbagai laskar-laskar yang tidak termasuk TNI, dan sesekali unit pasukan TNI juga terlibat baku tembak dengan tentara Belanda, seperti yang terjadi antara Karawang dan Bekasi.
Kesepakatan yang diambil dari Perjanjian Renville adalah sebagai berikut :
1. Belanda hanya mengakui Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatra sebagai bagian wilayah Republik Indonesia
2. Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda
3. TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur Indonesia di Yogyakarta
Sebagai hasil Persetujuan Renville, pihak Republik harus mengosongkan enclave (kantong-kantong) yang dikuasai TNI, dan pada bulan Februari 1948, Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah.
Tidak semua pejuang Republik yang tergabung dalam berbagai laskar, seperti Barisan Bambu Runcing dan Laskar Hizbullah/Sabillilah di bawah pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, mematuhi hasil Persetujuan Renville tersebut. Mereka terus melakukan perlawanan bersenjata terhadap tentara Belanda. Setelah Soekarno dan Hatta ditangkap di Yogyakarta, S.M. Kartosuwiryo, yang menolak jabatan Menteri Muda Pertahanan dalam Kabinet Amir Syarifuddin, Menganggap Negara Indonesia telah Kalah dan Bubar, kemudian ia mendirikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Hingga pada 7 Agustus 1949, di wilayah yang masih dikuasai Belanda waktu itu, Kartosuwiryo menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).
ah, sebelumnya saya tidak akan bercerita tentang perjanjian Renville dan dampaknya. sebenarnya saya cuma mau mengingat bahwa hari ini tujuh belas januari .duaribu sebelas. hari ini Ibu saya ulang tahun, selamat ulang tahun ibu, barakallahu fi umrik,….
Posted in coretan | Tags: hafiz fatah, hasan langgeng, ibu


secuil pesan