Posted by: pemimpikecil | 28 March 2013

Pesona Prasangka

Madinah gempar dengan sebuah berita pada tahun ke lima dari hijrah. Bermula dari pasukan Muslimin nglurug ke bani Mustaliq, lalu istri Rosulullah Aisyah RA tertinggal dari rombongan, selanjutnya ditemukan oleh petugas penghapus jejak Safwan Bin Mu’atta’. Berbekal rangakaian peristiwa ini musuh-musuh islam merangkai fitnah, bahwa Aisyah telah melakukan perbuatan keji ketika berdua saja dengan Safwan.

Hampir semua masyarkat madinah terpengaruh oleh fitnah yang beredar itu, meskipun tidak semua mempercayai. Sebagian yang tidak percaya pun kebingungan mencari cara untuk membantah terhadap fitnah yang terlanjur meluas. Sebagian besar sibuk dengan prasangka masing- masing yang telah dipengaruhi fitnah itu.

Madinah masih dipenuhi prasangka- prasangka penduduknya, dan kita bisa belajar dari satu percapakan yang luarbiasa tentang bagaimana cara beprasangka kepada saudara kita. Ayub al anshari bertanya kepada istrinya, “apakah engkau mengira berita itu benar?”. Istri ayub al anshari menjawab, “ kalau aku jadi aisyah, aku tidak akan berbuat keji, sedang aisyah lebih baik dari aku”. Ayub al anshari menimpali, “ aku pun demikian, seandainya aku jadi safwan, sedang safwan itu lebih baik dari pada aku.

Dari percakapan itu saya belajar bagaimana cara mengelola prasangka. Bagaimana cara berprasangka kepada saudara ataupun berprasangka kepada tersangka. Saat ini cara berprasangka yang baik seakan menghilang dari negeri ini. Dengan mudahnya public akan mencaci seseorang yang ditetapkan sebagai tersangka. Publik seringkali menjtuhkan vonis lebih cepat dan lebih mengerikan daripada pengadilan.

Dan dari percakapan itu pula saya bertanya- tanya, apahkah orang- orang yang nyinyir kepada para tersangka itu sudah “ngtrapke” kepada dirinya sendiri? Persis seperti pertanyaan Ayub Al Anshari misalnya “apakah saya akan mengambil uang proyek hambalang kalau saya jadi si A?” atau bisa juga “apakah saya mau menerim tawaran suap untk memperbesar kuota import PT I kalau saya jadi L? apakah para penyinyir itu sudah menanyakan pertanyaan ini kepada diri mereka sendiri?

Atau mungkin para penyiyir itu sudah menanyakan pertanyaan itu tadi dan jawaban yang merek peroleh adalah “ya kalau saya jadi mereka, saya juga akan mengambil uang itu”. Kalau yang didapat jawaban seperti ini apa artinya kenyinyiran itu? Toh kalo dia punya wewenang yang sama dengan tersangka juga akan melakukan kesalahan yang sama. Ah semoga prasangka buruk saya ini salah.

Maka perbolehkan saya untuk bersikap,kalau saya ada diposisi tersangka Insya Alloh saya tidak akan mengambil uang itu (mohon doanya semoga bisa Istiqomah) sedangkan Andi Malarangeng itu mungkin lebih baik dari saya, Anas Urbaningrum lebih baik dari saya, dan Lutfi Hasan jauh lebih baik dari saya.

Posted by: pemimpikecil | 18 July 2012

Puasa

“Duh Nabi, mengapa kewajiban ini sungguh berat” suatu saat Aisyah ra mengeluh kepada Rasulullah betapa beratnya kewajiban puasa waktu itu. “pahalamu sesuai dengan kadar kepayahan yang kamu rasakan” jawab Rasulullah. Pada saat itu kewajiban berpuasa belum seperti yang diwajibkan saat ini, baik hari yang ditentukan maupun tatacaranya. Kewajiban berpuasa berdasarkan pada Al-Baqarah 183 “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”. Ya, puasa pada masa itu baik tatacara maupun waktunya menyerupai kaum sebelum kita. Hal ini dilakukan untuk menarik umat yahudi dan nasrani yang ada di Madinah yang mana dalam kitab suci mereka sudah menerangkan kedatangan Rasulullah. Awalnya, Rasulullah sangat berharap merekalah yang pertama kali menyambut seruan Islam di Madinah, dalam keseharian Rasulullah berusaha memiripkan segala sesauatu dengan mereka hingga ada perintah untuk menyelisihi. Waktu waktu tertentu diwajibkan puasa adalah tiga hari di setiap bulan, atau yang dikenal dengan ayyammul bidh. Tata cara puasa yang berlaku saat itu adalah puasa dimulai ketika bangun dari tidur tanpa ada sahur dan berakhir ketika waktu isya’. Betapa berat kewajiban puasa saat itu, ditambah lagi banyak sahabat anshor yang puasanya tersambung- sambung selama tiga hari. Para sahabat anshor yang kebanyakan petani, sering kali tertidur sebelum isya’ dan bangun jauh setelah isya sehingga sudah harus berpuasa lagi, sebelum sempat berbuka.

Selanjutnya kewajiban berpuasa berpindah waktunya, yakni pada bulan ramadhan, berdasarkan pada Al-Baqarah 185 “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. Kaum muslimin gempar, “duh semakin beratlah kewajiban puasa ini, dulu kalo tersambung tiga hari kita masih kuat, walau sangat berat, lha kalau tersambung 30 hari? Bisa mati kita, ya mati kita, celaka”. Selanjutnya mereka menemui Rasulullah, dan bertanya “Ainalloh? Dimanakan Alloh? Mengapa memberika kewajiban yang sangat berat ini?”

Pertanyaan para sahabat itu dijawab oleh Alloh di ayat selanjutnya Al-Baqarah 186 “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. Bahkan saking dekatnya Alloh, ayat 186 itu seakan langsung turun kepada ummat tanpa melalui rasulullah, lazimnya ketika ada kalimat “apabila mereka bertanya” akan dilanjutkan dangan “katakanlah” kata ini yang tidak terdapat pada ayat 186 ini.

Kemudian turunlah ayat selanjutnya Al-Baqarah 187. “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”. Ayat inilah yang sebagian besar mufasir mengatakan sebagai dasar tata cara puasa sampai sekarang, yakni mulai puasa ketika shubuh, dan berbuka saat maghrib dan sepanjang malam.

Ya perintah puasa hanya ditujukan kepada orang-orang beriman, dan tanda keimanan paling kecil adalah seberkas rasa bahagia ketika ramadhan menjelang, begitu guru kita Salim A Fillah menuturkan. Selamat menyambut ramadhan, selamat ber-ramadhan, selamat berpuasa. Semoga kita menjadi orang yang bertaqwa.

Posted by: pemimpikecil | 17 July 2012

Bersikap (lagi)

Cerita ini berawal pada saat kepulangan pasukan muslimin dari perang bani Mustaliq. Bani Mustaliq ini bermukim di antara Madinah dan mekkah, yang sudah lebih dekat ke Mekkah, kalau kata orang sini “sak plinthengan”. Ya, tepat, ini cerita tentang berita bohong yang terjadi di Madinah pada tahun ke lima dari hijrah. Cerita yang mengingatkan saya (boleh dibaca kita) tentang pentingnya bersikap, dan tidak cukup hanya diam meskipun kita tidak ikut menyebarkan kemungkaran.

Pada saat perjalanan pulang dari peperangan, Aisyah r.a yang kebetulan saat itu terpilih melalui undian untuk membersamai Rasulullah dalam peperangan minta ijin keluar dati tandunya untuk suatu keperluan. Setelah beliau selesai dengan keperluannya dan kembali ke tandu, beliau sadar bahwa kalungnya tertinggal dan kembali keluar dari tandunya untuk mencari kalung yang tertinggal. Dikisahkan, pada masa itu Aisyah ra masih kurus, sehingga para penggotong tandu tidak bisa membedakan apakah Aisyah ra sudah kembali kedalam tandu atau belum. Sekembalinya Aisyah ra, ternyata pasukan muslim sudah beranjak dari tempatnya, dan sudah hilang dari pandangan. Satu hal yang dapat kita pelajari dari Aisyah ra Kalau kita tertinggal dari rombongan di tempat yang asing, cara terbaik adalah tetap berada ditempat kita tertinggal, berusaha mencari adalah hal yang keliru. Karena ketika teman serombongan kita sadar kalau ada yang tertinggal, mereka akan mencari, dan hal yang paling munggkin adalah menyusuri kembali jalan yang telah dilewati. Selain alasan itu, tentu saja Aisyah ra mengetahui kalau di belakang pasukan utama ada pasukan penyapu yang tugasnya menghapus jejak dan menemukan anggota yang tertinggal.

Pada peristiwa ini, pasukan penyapu di bebankan pada Safwan bin mu’attal. Pada saat melaksanakan tugasnya, dari kejauhan Safwan menemukan Aisyah ra, beliaupun terkejut dan berucap “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, istri rasulullah”. Kemudian Safwan mempersilakan Aisyah ra untuk mengendarai untanya, kemudian Safwan bimbing unta itu sampai ke Madinah. Setibanya di Madinah, semua orang mempunyai prasangka masing- masing. Hal ini dimanfaatkan oleh Abdullah bin ubay dan gerobolannya untuk memperkeruh suasana. Kemudian muncullah berita bohong itu, desas- desus bahwa Aisyah ra dan Safwan telah melakukan perbuatan keji. “Ya, kita memang tidak pernah tahu apa yang mereka lakukan, tapi kira- kira apa yang akan dilakukan oleh seorang laki- laki dan perempuan ketika tidak ada orang lain disana” kurang lebih kalimat- kalimat ini yang terus di ulang oleh penyebar berita bohong dan pendukungnya. Kaum munafikin terus menyebar desas desus sedangkan kaum muslimin bungkam dan tidak memberikan bantahan.

Aisyah ra pulang ke rumah orang tuanya, Abu bakar ra sendiri ikut gamang walau sangat mempercayai putrinya. Sedangkan wahyu yang ditunggu oleh Rasulullah tidak jua datang, wahyu sempat terputus krang lebih sebulan lamanya. Madinah masih dikuasai oleh desas- desus. Satu fragmen percakapan yang yang cukup melegakan dari ayub al anshari dengan istrinya. Ayub al anshari bertanya kepada istrinya, “apakah engkau mengira berita itu benar?”. Istri ayub al anshari menjawab, “ kalau aku jadi aisyah, aku tidak akan berbuat keji, sedang aisyah lebih baik dari aku”. Ayub al anshari menimpali, “ aku pun demikian, seandainya aku jadi safwan, sedang safwan itu lebih baik dari pada aku.” Saat membaca fragmen ini di Dalam Dekapan Ukhuwah, saya sempat bertanya apa keunggulan safwan? Sahabat yang sependek pengetahuan saya jarang di ceritakan selain di kisah seputar berita bohong ini, dan belum lama ini saya menemukan jawabannya, safwan adalah pasukan penyapu yang bekerja seorang diri di padang pasir yang seakan tanpa tepi. Jelas dibutuhkan prajurit terbaik untuk melakukan tugas berat ini.

Setelah sebulan lebih lamanya, wahyu yang ditunggu- tunggu itu akhirnya turun untuk menjawab desas desus yang menyebar. “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: ‘Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.’ Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperbincangkan ini. Maha Suci Engkau (Wahai Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.’ Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali berbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (An-Nur: 11-20)

Kesempatan ini saya coba soroti bagian pentingnya mengambil sikap (melanjutkan yang sebelumnya). Pada ayat ke 12 dari surat An-Nur, terdapat terguran yang santun dari Alloh, namun “nge-jleb”, yang dewasa kini dikatakan konsep teguran yang berseni. “Disaat mendengar berita bohong Mengapa kalian diam wahai mukminin- mukminat?”. Karena seharusnya mukminin itu tidak diam ketika ada kemungkaran, harus mengambil sikap yang jelas, dan sikap itu harus menolak kemungkaran. Tidak cukup bagi kita diam dengan bergumam “yang penting kan kita tidak ikut berbuat kemungkaran” sungguh tidak cukup. Teruslah memberbaiki diri sembari mengajak berbuat baik dan menolak kemungkaran . semoga

Wallahu a’lam

Posted by: pemimpikecil | 16 July 2012

Bersikap

“Bahasa lu, kalo sempet..

futsal aja rutin

buruan tulis, keburu nguap” (HN 2012)

Bercerita merupakan metode paling baik untuk transfer pengetahuan, penanaman nilai dan menularkan gagasan. Seorang pria harus pandai bercerita, ucap seorang kakak kelas saya. Beliau menambahkan, entah itu kepada anak, atau pun istri, kami tersenyum kecut mendengarnya. Ceritakan saja apapun itu, mereka tidak mengerti apa yang kita ceritakan tidak masalah, suatu saat mereka akan mengerti. Lalu beliau memberikan contoh beberapa ayah yang pandai bercerita dan keberhasilannya dalam mendidik anak- anaknya.

Begitupun Quran, untuk mengajarkan nilai pada manusia Quran mengandung banyak cerita. Ratusan bahkan ribuan kisah tersebar di Al-Quran. Dan salah satu cara Quran bercerita tidak pernah menceritkan detail dimana dan kisah yang sedang diceritakan terjadi. Kisah itu Cuma disebutkan terjadi pada masa lampau, di suatu tempat dan nyaris tidak pernah disebutkan secara rinci. Sejarah itu senantiasa berulang,sangat mungkin terjadi kisah yang diceritakan oleh Quran terjadi kembali di masa sekarang. Dan yang sekarang membingungkan adalah sekelompok orang yang mengaku islam, malah mengatakan perlunya revisi terhadap Quran, karena dinilai sudah tidak relevan.

Satu dari sekian banyak kisah yang ada di dalam Quran, adalah kisah tentang bangsa Ailah. Bangsa Ailah bertempat tinggal di dekat laut, namun tidak pernah dirinci laut sebelah mana yang menjadi tempat tinggal mereka, sebagian besar ahli tafsir menyebutkan tepi laut merah antara kota madyan dan sinai. Tidak pernah disebutkan juga Bangsa Ailah hidup pada zaman apa, namun disebutkan mereka hidup tatkala pada hari Sabtu dilarang untuk bekerja. Syariat yang berlaku pada Bangsa Ailah, kurang lebih adalah syariat yang di bebankan pada Bani Israil, sehingga ada yang mengatakan kisah ini terjadi pada tidak jauh dari kenabian Musa AS.

Bangsa Ailah hampir semuanya mencari nafkah sebagai nelayan, pada awalnya mereka mentaati larangan bekerja dalam hal ini larangan menangkap ikan di hari sabtu. Atas kehendak Alloh, setiap hari sabtu ikan di laut melimpah, bahkan ada yang sampai kepantai, dan muncul ke permukaan air laut. Pada hari lainnya sangat sulit untuk mencari ikan, namun ketika hari diharamkan menangkap ikan, ikan malah melimpah ruah. Sehingga suatu saat muncul seorang pelopor yang mengakali syariat, dia memasang perangkap pada hari jumat sehingga bisa menangkap ikan pada hari sabtu dan akan mengambil ikan yang terjebak dalam perangkapnya pada hari ahad. Ternyata semakin banyak yang ikut memasang perangkap pada hari jumat, dan mengambil pada hari ahad.

Sebagian dari bangsa Ailah mencoba mencegah agar tidak ada yang mengakali syariat,

“ apa yang kalian lakukan itu melanggar hukum Alloh, melanggar larangan untuk tidak menangkap ikan pada hari sabtu”

“kami tidak menangkap ikan pada hari sabtu, kami memasang perangkap pada hari jumat, dan mengambilnya pada hari sabtu”, jawab kelompok pertama

“sungguh kalian telah menangkap ikan pada hari sabtu, segeralah bertobat ke pada Alloh”, kelompok kedua kembali mengingatkan.

Sebagian lagi dari Bangsa Ailah mengambil sikap tidak mengambil sikap, (nah mbulet) kelompok ketiga ini berkata pada kelompok kedua,

“ untuk apa kamu menasihati mereka (kelompok pertama), mereka akan dibinasakan Alloh,Alloh yang akan memberikan Azab kepada mereka”

sepintas jawaban ini sangat masuk akal, kalian tidak usak ikut campur urusan mereka, Alloh yang akan mengazab mereka, sudahlah kita nikmati hidup kita sendiri, kita taat dan biarkan mereka yang menyimpang. Kalimat sejenis ini yang sering digunakan oleh orang- orang yang liberal itu.

“ iman kami kuat, kami tidak takut iman kami luntur karena datangnya lady gaga”

“kalau benar Alloh mengazab kaum luth karena homoseksual, kenapa Allo membiarkan mereka sekarang” (waktu ramai- ramai irshad manji)

padahal selemah lemahnya iman itu menolak kemungkaran dengan hati, nah mereka (pendukung liberal) mengaku imannya kuat sehingga pantas untuk mendukung kemungkaran, semoga Alloh melindungi kita dari paham yang demikian.

Lalu kelompok kedua dari bangsa Ailah menjawab,

“ agar kami mempunyai alasan kepada Alloh, dan agar mereka bertaqwa”

kami melakukan ini agar nanti di akhirat ketita dimintai pertanggung jawaban kami bisa menjawab, dan agar mereka bertobat kepada Alloh dan bertaqwa. Kalau bahasanya bang Akmal, kan enak nih kalau nanti di akhirat ditanya,

“waktu ada kemungkaran kamu ngapain?”

“saya sudah meencoba mengingatkan mereka, saya sudah mengajak mereka bertobat,”

Kalau kita tidak melakukan apa- apa, atau mengikuti kelompok ketiga bangsa Ailah, ketika nanti ada pertanyaan yang sama akan kesulitan menjawab,

“waktu ada kemungkaran kamu ngapain?”

“……..diem……..”

yang lebih celaka adalah ketika kita malah mendukung kemungkaran itu, ya kita akan menjadi bagian orang- orang yang melakukan kemungkaran.

Kemudian azab Alloh turun kepada kelompok pertama bangsa Ailah, mereka menjadi kera, (mungkin tulang- tulang mereka yang di temukan oleh darwin) sedang kelompok kedua dibebaskan dari azab. Sampai disini kisah bangsa Ailah ditutup, Quran tidak menjelaskan bagai mana nasib kelompok ketiga yang tidak berusaha mencegah kemungkaran terjadi. Kelompok pertama nasibnya jelas, kelompok kedua nasibnya juga jelas selamat dari azab. Sedangkan kelompok ketiga nasibnya jelas- jelasa tidak jelas, sebuah ganjaran bagi pengambil sikap tidak mengambil sikap.

(kisah bangsa ailah pada QS AL A’raf 163-166)

Wallahu a’lam

Posted by: pemimpikecil | 6 July 2012

kau ini bagaimana

Kamis 5 juli 2012, saya menghadiri kajian tentang gerakan Islam liberal di GOR UNY yang dibawakan oleh akmal syafril. Kesempatan ini, saya mau berbagi sebuah puisi yang dibacakan oleh moderator sesaat sebelum acara ditutup. Sang moderator menggubah pusi ciptaan Gus Mus, yang berjudul “Kau ini bagaimana? Aku harus bagai mana?” berikut pusi yang dibackan oleh moderator.

Kau ini bagaimana?
kau  bilang aku harus merdeka, tapi kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berfikir, aku berfikir kau tuduh aku amatir
aku harus bagaimana?
kau suruh aku mengkontekskan Quran, aku buka tafsir kau bilang itu tidak relevan
kau sebut dirimu cendekiawan, kau sendiri m alah menafsirkan firman sembarangan

kau ini bagaimana?
kau suruh aku memaknai hadist, aku pake sanad kau bilang aku fundamentalis
kau suruh aku beriskap kritis, aku kritis kau anggap oportunis
aku harus bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang plin-plan

Kau ini bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
aku harus bagaimana?
kau suruh maju, aku maju kau serimpung kakiku
kau suruh bekerja aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri malah sibuk mempertanyakannya
kau bilang kau suka damai, tapi kau malah ajak setiap hari bertikai
aku harus bagaimana?
kau suruh aku bertaqwa, tapi khutbah- khutbahmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, tapi langkahmu tak jelas arahnya

Kau ini bagaimana?
kau suruh aku diskusi, aku ajak diskusi kau malah pergi
kau bilang kau minta diundang, giliran ada radio  mengundang kau malah tak datang
aku harus bagaimana?
kau suruh aku tak hanya berasumsi, tapi permainan spekulasimu menjadi- jadi
kau suruh aku aku bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap aku bukan malaikat

Posted by: pemimpikecil | 2 July 2012

Belajar

“San, nang mesjid saiki meh dijak neng merapi tekan sesuk awan…nggowo perlengkapan sisan”
Pesan singkat yang masuk ke ponsel saya, sabtu siang kemarin. Pesan yang menimbulkan dilema,  bukan hanya karena SMS itu saya terima 32menit dari waktu keberangkatan yang dijadwalkan ke lereng merapi- merbabu, juga karena saya sudah berencana untuk hadir pada latihan memanah di lapangan Denggung ahad paginya.  Sempat terbesit untuk menolak ajakan ke lereng merapi ini, namun seketika saya teringat sebuah materi di suatu malam di bulan maret tahun 2009, ya ruhul istijabah. Beberapa menit berikutnya saya sadar mungkin ini “hiburan” dari Alloh, di akhir pekan yang berpeluang menjadi akhir pekan dengan tingkat “galau” yang tinggi, tiba tiba di ajak ke lereng merapi- merbabu. Ya, akhir pekan itu bisa jadi hari- hari yang berat, mulai dari honor yang belum juga turun (curhat) dan berbagai masalah- masalah lain. Oke saya putuskan berangkat.

Saya berangkat ke lereng dua gunung yang menjadi inspirasi logo provinsi jawa tengah dengan persiapan yang minim. Ini bukan pendakian ke puncak, perjalanan ini dalam rangka pelatihan teman- teman Himpunan Anak- Anak Masjid (HAMAS) Jogokariyan. Dan sayapun mendapatkan banyak  pelajaran dari perjalanan ini, tidak rugi meninggalkan latihan memanah.

Belajar dari HAMAS Jogokariyan
HAMAS Jogokariyan aadalan organisasi anak-anak di masjid Jogogokaryan, anak- anak bukan remaja. Tugasnya adalah membimbing adik- adik yang lebih kecil. Di beberapa tempat atau bahkan hampir semua, usia SMP-SMA  saya katakan sebagai generasi yang hilang dari masjid, usia-usia  yang lebih banyak main diluar. Tetapi HAMAS ini lain, mereka memikul tanggung jawab untuk membimbing adik- adiknya.  Tapi saya mohon, jangan bandingkan HAMAS dengan LDK  dikampus anda, karena dari segi usia mereka dan pengalaman LDK itu jelas lebih unggul. Semoga di tempat lain akan muncul HAMAS – HAMAS baru yang tak kalah tangguh.

Belajar dari Relawan masjid

Selama berada di lereng merapi- merbabu, kami mengambil base di desa binaan  relawan Masjid. Tak bisa di pungkiri bahwa daerah lereng merapi- merbabu ini merupakan kawasan rawan pemurtadan,  rawan dengan adanya kristenisasi. Relawan masjid hadir disana berusaha untuk menangkal pembusukan aqidah umat islam ini (yang tidak setuju dengan istilah pembusukan,  boleh protes). Kami tiba di dusun Windusajan, desa Wonolelo sekitar pukul 15.30, desa ini menjadi desa binaan sejak meletusnya Merapi 2010 silam. Relawan masjid menghidupkan islam di sini, selama di windusajan dari 3 kali sholat, masjid selalu penuh. Memang masjidnya kecil, tapi jumlah penduduknya juga sedikit, cukup proporsional lah. Selain itu relawan masjid juga mendirikan TK/TPA al aqsho di windusajan ini. Bada isya, perjalanan dilanjutkan, kami menuju coban duwur, lokasinya tebih tinggi dari windusajan, masih di desa wonolelo. Perjalan kaki malam itu kami tempuh sekitar satu jam.  Di dusun kedua ini, penduduknya hanya sekitar 40keluarga. Sebelum Merapi meletus, tinggal TUJUH keluarga yang masih muslim, yang lain menjadi korban pembusukan aqidah, Alhamdulillah, hikmah dari meletusnya merapi yang kemudian datang relawan masjid jumlah antara muslim dan kristen di sana berimbang. Di coban duwur juga saya bertemu dengan dai dari relawan masjid yang ditempatkan di dusun ini. Relawan masjid telah menunjukkan pada saya bagaimana cara melawan pembusukan aqidah, aksi nyata yang membantu saudara seaqidah kita.

Belajar dari Dai mukim

Untuk menangkal pembusukan aqidah, relawan masjid menempatkan dai di daerah daerah yang sangat rawan terhadap pembusukan aqidah. Saya menyebut mereka dai mukim, memang ada semacam honor untuk para dai mukim ini, tapi itu sangat tidak cukup atau bahkan dai mukim ini berkontribusi dengan harta mereka juga untuk menghidupkan islam. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah, mereka harus tinggal dan menetap di lereng merapi- merbabu, meninggalkan berbagai fasilitas yang ada di kota, sinyal seluler tidak semua ada, internet belum tentu, dan berbagai kendala- kendala lain.  Hasilnya jelas, subuh yang dingin di coban duwur membuat saya terharu, jamaah subuhnya cukup banyak, hari itu masjid yang sedtikit lebih besar dari ruang keluarga dirumah saya itu penuh oleh jamaah, alhamdulillah. Kurang dari dua tahun yang lalu, jumlah muslim tinggal  tujuh keluarga, pagi itu jamaah subuh memenuhi masjid. Dan saya semakin kerdil tatkala jamaah subuh yang di imami mas akhsin, seorang dai mukim, beliau menggunakan qunut, ah  base relawan masjid itu di jogokariyan yang tidak qunut ketika subuh, ah saya sadar dakwah itu mengajak pada islam. Dari situ saya merasa surga masih jauh.

Belajar dari Palestina
Lho kok Palestina? Ya Palestina, yang ini beneran Paelstina, negeri yang masih dirongrong oleh zionis itu. Di desa binanaan tadi, relawan masjid mendirikan TK/TPA yang dananya sebagian diperoleh dari sumbangan saudara- saudara kita yang ada di Palestina. Mereka memang sedang dalah kondisi yang sangat sulit, namun masih peduli dan mau membantu kita. Bantuan itu terkumpul ketika terjadi bencana Merapi dulu melalui sahabat Al-aqsho. Semula sahabat Al-aqsho sempat menolak namun mereka tetap memaksa untuk dapat ikut membantu. Dan kemarin saya temu beberapa orang memakai kaos bertuliskan “Tanda cinta dari Palestina untuk saudara di Indonesia”. Ah, Palestina, Insya Alloh segera merdeka.

Belajar dari pengusaha

Nah ini? Ya kemarin itu yang merancang acaranya adalah CEO penerbit buku- buku islam yang cukup ternama, beliau juga sekjen dari sahabat Al-aqsho. Benarlah uang itu kalau diatangan orang yang tepat islam akan kuat. Inisiator dari relawan masjid ini selain CEO penerbit tadi, juga seorang lagi CEO air mineral teroksidasi. Dari mereka saya belajar bagaimana   membelanjakan uang. Mobil keduanya biasa untuk wira-wiri jogja lereng merapi, tanpa ada keuntungan finansial yang didapat. Yang membuat saya tersanjung adalah ketika beliau makan bersama dengan anak-anak peserta menggunakan nampan yang sama. Terimaksih mas, pelajaran kehidupan yang hebat untuk saya.

Belajar dari alam

Klise memang, tapi alam telah mengajarkan penduduk di lereng merapi merbabu untuk hidup. Alam mengajarkan anak-anak berjalan di tepi jurang, berlari di tepi sungai, bertahan dalam kedinginan malam. Dan alam membuat saya takjub ketika pagi menjelang, memandang ke depan adalah Merapi dengan gagah dan terlihat tenang, ketika menengok kekiri si kalem merbabu tak kalah mempesona. Alam juga mengajarkan keramahan kepada penduduknya, entah berapa ratus kali saya menerima tawaran “monggo mas pinarak”. Terdengar formalitas memang, tapi kalo kita beneran mampir paling tidak ada teh hangat yang disediakan oleh tuan rumah.

Posted by: pemimpikecil | 27 June 2012

SKCK

Petugas: uang administrasinya 15ribu mas.
saya : Lho pak? Bukannya 10ribu ya, PNBP 10ribu kan?
Petugas : iya mas PNBP 10ribu
saya: lalu yang 5ribu untuk apa? Kok tidak di tampilkan di depan juga?
petugas: untuk operasional mas, (gugup)
saya: operasional apa ya pak? Ada SK nya?
petugas: ada mas (tapi ga nyebut SK siapa no berapa) kayak beli tinta printer ini mas (nunjuk printer yang dipake mencetak SKCK), pengadaan komputer dan printer, biaya perbaikan kalau printer atau komputer ini rusak (masih keliatan gugup)
saya: haa??? (muka penasaran) bukannya itu barang milik negara ya pak? Yang semuanya ditanggung APBN?
petugas: bukan mas ini kami pengadaan sendiri, ya dari uang ini tadi
saya: (masih ngeyel) sejak kapan pengelolaang barang milik negara pake uang sendiri? Yaudah deh pak, saya bayar 15ribu, tapi semua dosa dan akibat yang timbul dari 5ribu ini say ga mau ikut nanggung.
sedikit percakapan saya dengan petugas pelayanan pembuatan SKCK di kantor Polres Rembang (sengaja sebut nama,biar pada tahu semua, hehe) pada tanggal 13 juni 2012 sekitar pukul 11 pagi. Kurang puas dengan jawaban dari petugas pelayanan, pada kamis pagi 15 juni saya mencoba untuk menemui pejabat yang berwenang atas SKCK ini, say mencoba menemui Kasat Intelkam Polres Rembang, namun beliau tidak ada di ruangan. Oleh resepsionis saya di arahkan ke ruangan staf intelkam, namun kosong juga tidak ada satupun anggota di ruangan itu. Saya kembali ke resepsionis dan ke mudian di arahkan kebagian keuangan, (dalam hati saya, mana tahu bagian keuangan hal begianian), dan benar, sesampainya di bagian keuangan anggota yang ada disana menyatakan tidak tahu menahu soal biaya di luar PNBP itu. Nah harus kemana saya bertanya? Oke selanjutnya saya menuju provost siapa tahu unit ini bisa diandalkan, ternyata ruanganya kosong mlompong juga. Dan sampai sekarang saya masih belum mendapatkan penjelasan dasar hukum untuk pungutan diluar PNBP itu.
Bagi sebagian orang, nominal 5ribu bukanlah angka yang material, namun bagi saya angka itu sangat material. Bukan karena saya THL di suatu instansi pemerintah, bukan. Lebih karena angka itu telah menodai integritas aparat penegak hukum (sebagian anggota POLRI). Kita sering marah ketika disebutkan oknum pegawai pajak memiliki kekayaan hingga puluhan M, tanpa pernah kita sadari bahwa pungutan diluar PNBP seperti di atas tidak jauh beda dangan apa yang dilakukan oleh oknum kakak kelas saya. Bedanya adalah oknum kakak kelas saya yang pegawai pajak itu memungkinkan untuk melakukan pungli dengan angka fantastis, sedangkan pelayan pembuatan SKCK tidak mungkin menarik diluar PNBP sebesar 10 juta misalnya. Saya jadi membayangkan kalao pelayan pembuatan SKCK itu tiba- tiba menjadi pegawai pajak, wow.
Kekhawatiran selanjutnya adalah, tidak adanya masyarakat (pemohon SKCK) yang protes dengan keadaan ini. Kalau ketidak pedulian masyarakat (baca: kita semua) akan hal ini terus berlanjut, saya optimis sampai 2014 Indonesia masih ada korupsi (harusnya pesimis ya). Yang lebih miris, saat itu saya bersamaan dengan adik- adik yang mengurus SKCK sebagai persayaratan untuk masuk sekolah Brigadir dan Tamtama. Ya, mereka juga dengan polosnya menyerahkan uang saat diminta biaya yang lebih besar dari PNBP tanpa ada pertanyaan, dua atau tiga tahun mendatang merekalah yang akan menjadi petugas pelayanan SKCK, ah semoga saya salah.

1. Kalau pagi ini engkau bisa BAB di WC, bersyukurlah. Di pedalaman, masih ada da’i kita yang harus menggali tanah untuk sekedar buang air.
2. Di sejumlah titik di tengah hutan, terdapat da’i yang berdakwah sendirian, mengajari para muallaf, meninggalkan hiruk-pikuk kota.
3. Ada juga yg tinggal di masjid yg sunyi tanpa fasilitas MCK. Jika sewaktu-waktu perlu MCK, mereka harus berjalan kaki berkilo-kilometer.
4. Seseorang mengantarkan uang kpd satu da’i pedalaman itu, tapi ia menolak. Dakwah di kota lebih membutuhkan uang. Beri kami do’a yg tulus.
5. Jika mau bantu, berikan saja sarana komunikasi. Untuk menelpon, mereka harus berjalan jauh ke atas gunung agar memperoleh sinyal GSM.
6. Atau berikan alat yang dapat menghasilkan listrik yang mencukupi untuk menghidupkan komputer, charge HP dan syukur bisa untuk yang lain.
7. Apalagi yang diperlukan? Seorang sarjana S-1 ilmu agama yang bersedia menjadi istri dan siap berjuang di tengah hutan, sebab untuk >>
8. >> mengajarkan agama Islam di sekolah yang ada di sana bagi anak kaum muslimin, harus guru agama yang memenuhi syarat menjadi PNS.
9. Sampai kapan berdakwah di sana? Sampai beranak-cucu, atau sampai habis umur ini, atau sampai ada tempat yang lebih memerlukan dakwah.
10. Mereka gigih berdakwah bersebab rasa takutnya kalau sampai ada orang-orang yang di sana dalam keadaan belum pernah mendengar ttg Islam.
11. Mereka brdakwah –bukan skedar jadi pembicara– di pedalaman bukan krn tak mampu brwirausaha di kota, tapi krn ingin jadi asbab hidayah.
12. Jika pun brmaksud bawakan bagi mereka logistik, bawakan saja ikan kaleng, mie instant sekedar sbg selingan makan rusa & binatang buruan.
13. Jangan bayangkan santapan yang enak. Berbagai binatang buruan itu mereka makan ala kadarnya. Bersyukur jika bertabur garam & bumbu.
14. Maka kehadiran seorang istri amatlah berharga. Selain sebagai teman berjuang, juga untuk menjadikan perjuangan dakwah lebih berwarna.
15. Kehadiran istri dapat menjadikan binatang buruan tak hanya direbus, dipanggang di atas batu atau dibakar langsung, tapi dibumbui.
16. Bahkan istri yang tak dapat memasak pun dapat menegakkan punggung mereka untuk tetap gigih berdakwah asalkan siap berjuang di kesunyian.
17. Mereka bukanlah orang-orang lemah seperti saya. Mereka meninggalkan kemudahan kota secara sengaja demi meraih surga-Nya.
18. Salah seorang dari mereka, yang masing-masing tinggal sangat berjauhan di wilayah dakwah berbeda, amat tegap badannya, gagah, tampan, >>
19. >> berkulit amat putih dan cerdas. Tapi bukan itu yang membuat saya merasa malu. Kesungguhannya untuk mengantar hidayah yg bikin haru.
20. Salah seorang da’i brkata, “Kalau sampai ada orang yg mati dalam keadaan belum pernah mendengar ttg Islam, sementara kita ada sini, >>
21. >> boleh jadi kita yang ikut memiliki saham dosa atas kekafiran mereka. Maka, apa jawab kita nanti kalau bukan berusaha keras sekarang?”
22. “Kami tak perlu kehadiran Ustadz terkenal yg tidak bisa melayani dirinya sendiri. Yg kami perlukan, orang yg siap mengotori tangannya >>
23. >> untuk mengusap mereka dan mengikhlaskan badannya untuk berpelukan dengan dekil tubuh mereka yang gembira menyambut kita.”
24. Jika mau sungguh-sungguh berdakwah, jangan khawatir kekurangan makan di sini. Pertolongan Allah tetap berlaku di belahan bumi manapun.
25. Orang-orang di pedalaman tak memerlukan curriculum vitae yang panjang dan serangkaian prestasi yang bikin tercengang.
26. Mereka hanya memerlukan orang yg tulus menyapa; yg menyediakan airmatanya untuk mendo’akan mereka. Bukan menangisi terbatasnya fasilitas
27. Sempat saya diajak ke sebuah tempat dan ditunjukkan, “Dubes Vatikan sudah dua kali ke sini.” ثم لتسألن يومئذ عن النعيم 6
28. “Kemudian sungguh kelak kamu akan ditanyai pada hari itu (tentang nikmat yang Allah berikan kepadamu).” QS. At-Takaatsur: 8
29. Merupakan kehormatan jika seorang ustadz besar brkenan datang menyapa mereka. Jangan khawatir, mereka akan mnyambut dg penuh kehangatan.
30. Mereka dg senang hati memberikan apa yg mereka punya, jika kita tidak malu menerimanya. Bahkan gaharu pun mereka tak berat melepaskan.
31. Semoga di tahun ini, tak lama, sy dapat mendatangi sebagian pos dakwah mereka. Semoga Allah mampukan sy membawakan sesuatu yg berharga.
32. Bersyukur saya sempat pula bertemu seorang da’i yang tinggal berdua dengan isterinya di tengah hutan. Saya tertegun.
33. Saya termangu melihat wajahnya yang menyiratkan sbg pribadi bahagia & tenang. Bukan sekedar kebetulan sedang bahagia.
34. Betapa ringan ia mnghadapi dunia, meski HPnya sudah tak bertutup di bagian belakang. Pengen bawakan ia HP tahan banting, awet baterai.
35. Masih amat banyak hal yang patut direnungi. Tapi izinkan saya menata hati. Betapa kecilnya diri ini di hadapan mereka.
36. Nasehati saya, nasehati saya & do’akan. Teringat sebuah hadis, tapi saya belum menemukan penjelasan ttg status hadis ini (bisa bantu?).
37. “Tdk akan trjadi kiamat sbelum muncul golongan yg mncari makan melalui lidah-lidah mrk, sprti sapi yg makan dg lidah-lidahnya.” HR Ahmad

Posted by: pemimpikecil | 24 April 2012

Pre order kaos #IndonesiaTanpaJIL

Pre Order official t-shirt #IndonesiaTanpaJIL
bahan combed 20s
ukuran S, M, L, XL, XXL
harga S, M, L : 55.000
XL : 60.000
XXL : 65.000
Belum termasuk ongkos kirim
sistem pre order, akan mulai produksi setelah pemesan mencapai 6 orang.
PESAN>KONFIRMASI> BAYAR DP 50% (lunas lebih baik) > PRODUKSI > PELUNASAN > KIRIM

cod kota jogja
pengiriman via JNE atau Pos Indonesia

pemesanan
hp : 08995547479
gtalk: hasan.pramudhito
terima kasih

daftar pemesan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Posted by: pemimpikecil | 4 April 2012

13ribu

“Ini pak”, (menyodorkan seribu rupiah untuk membayar parkir)
“Eh iya mas”. (sambil mencari gopek unutk kembalian)
“Emm tidak usah kembalian aja pak”….
“eh, matur nuwun sanget mas” (dengan rona wajah yang sangat gembira) “Alhamdulillah mas, sudah dapet 13ribu”, ucap beliau dangan menampakkan muka sangat bersyukur.

Ya, siang itu 13 februari 2012, saya mendapatkan teguran yang luar biasa melalui bapak tukang parkir didepan toko elektronik itu. Setelah 2 hari sebelumnya saya menyaksikkan kegaduhan teman-teman, atau bahkan saya sendiri ikut gaduh memikirkan pendapatan setalah pengumuman instansi. Gaduh karena kecewa ditempatkan di instansi yang tunjangannya lebih kecil dari instansi lain, gaduh karena honor yang diterima ketika magang di anggap terlampaui kecil, dan kegaduhan- kegaduhan lainnya. Disaat saya menanyayangkan honor yang 800an ribu sebulan, seakan saya di tampar dengan keras siang itu. 13rb dalam satu hari, dan bapak itu seakan mengatakan bahwa hari ini ramai, lebih dari biasanya, lalu kalau hari biasa berapa yang diperoleh bapak tukang parkir itu.  Kejadian ini memaksa saya mengendari sepeda motor diiringi rembesan air mata.

terimaksih bapak tukang parkir.pembaca yang budiman semoga  kita termasuk orang- orang yang senantiasa bersyukur

Older Posts »

Categories